Cerpen Pertamaku "Memories"

MEMORIES..

Hari ini aku ingin mengungkapkan isi hatiku. Semua tentang perasaanku yang selalu terjaga untuknya, sang pemilik hati.
Hari ini adalah hari ulang tahunku. 13 November. Bulir demi bulir airmata tak dapat ku bendung lagi. bukan air mata haru yang ku keluarkan. Justru sebaliknya. Ini adalah airmata kesedihan. Setahun sudah dia pergi dari sisiku. Setahun sudah aku tak menemukan senyumannya. Setahun sudah aku tak dapat menemukan pria yang dengan sabarnya menghiburku kala aku bersedih. Tapi sekarang? Mana mungkin dia menghiburku? Dia yang telah membuatku bersedih karena kepergiannya.
Tapi mengapa? Kenangannya masih tetap tinggal? Membuatku berat untuk menanggungnya. Ini kenangan indah tapi saat mengingatnya mengapa aku selalu mengeluarkan airmata?
Berawal dari sebuah pertemuan yang awalnya biasa-biasa saja. Seiring berjalannya waktu, dapat kurasakan sebuah rasa yang sulit untuk digambarkan apabila tak dirasakan. Dan aku tahu kala itu aku tengah jatuh didalam lubang cinta yang begitu indah.
Hingga sampai pada saat aku  bisa dekat dengan pria ini. Ini adalah kali pertama aku bisa sedekat ini dengan dirinya. Tentu perasaanku saat itu sangat senang. Walaupun hanya sebatas duduk berdampingan tanpa obrolan sepatah katapun, tak bisa dibohongi bahwa hati ini sangat sangat sangat senang.
Tak disangka, dari kejadian kecil ini berpengaruh besar terhadap hubunganku dengannya. Kami menjadi lebih dekat, saling melempar senyum, bertegur sapa, mengobrol ringan. Dia mewujudkan angan-anganku. Membuat nyata setiap mimpiku. Mewarnai terang gelap keseharianku. Indah. Dia bagaikan jutaan bintang yang selalu menghiasi langit dikegelapan malam. Dan aku adalah sang malam, yang sunyi sepi tanpa sinar-sinar sang bintang.

Giovano Ardiansyah. Sebuah nama dan sosok anak adam yang mengubah semua sisi pandangku melihat dunia. Mengubah diriku dari setangkai bunga layu menjadi bunga cantik yang selalu mekar sepanjang hari.
“I Love You” Ucapnya yang selalu ku impikan, ku bayangkan. Dan aku tahu ini juga pasti hanya sekedar buah imajinasiku sendiri. Tapi bukan! Ini benar-benar kalimat yang dikatakannya.
Aku tak percaya ini. Pria yang selalu ku dambakan menjadi orang yang bersedia membawaku ke hangat pelukannya kini telah menjadi kekasihku. Kami adalah sepasang kekasih yang saling menyayangi. Keseharian kami diwarnai dengan canda tawa yang selalu berbekas dibenakku.
Apapun tentangnya. Senyum manisnya, tatapan penuh kasihnya, sentuhan lembutnya, dan juga pelukan hangatnya. Tak ada alasan untukku mengkhianati dirinya. Saat bersamanya aku begitu bahagia sampai berpikir bahwa hanya aku yang bisa merasakan kebahagiaan sebesar ini. Kebahagiaan tiada tepi.
Suatu masa, ketika dia sedang menghadapi masa sulit. Dia mengurung diri dalam ruang kesulitannya sendiri. dia tak membiarkan orang disekitarnya ikut mengurusi dan terlibat dalam masalahnya.  Termasuk aku, wanita yang paling dekat dengan hatinya. Tapi aku tetap berusaha untuk bisa masuk dalam masa sulitnya itu.
Aku tak ingin menjadi wanitanya yang hanya bisa hadir saat dia senang. Tak ingin menjadi wanita yang hanya membuka telinga saat dia mengabarkan berita bahagia saja.
Aku juga ingin menjadi orang disampingnya saat dia mengalami masa sulit seperti ini. Aku ingin aku berguna bagi hidupnya.
Hingga akhirnya dia bisa mempercayaiku untuk menjadi pendengar kesulitannya. Dengan berderai air mata,  dia mulai bercerita tentang semua yang telah terjadi, semua tentang keluh kesahnya, alasan yang menyebabkan seorang Giovano Ardiansyah menjadi begitu murung.
Sampai aku benar-benar tahu apa penyebab kemurungannya, penyebab kesedihannya. Yang ternyata bukanlah hal kecil melainkan hal besar yang begitu berpengaruh besar dalam hidupnya. Ibunya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Setelah selesai bercerita dia mengusap kedua matanya yang masih berair itu. Dan dengan tegarnya dia berkata “Tak apa. Aku tahu ini sudah menjadi suratan Yang Kuasa. Ibu yang begitu ku sayangi kini telah tiada. Tapi aku masih tetap bersyukur kepada-Nya karena dia tak mengambil dirimu. Aku mohon, sampai kapanpun jangan pernah setitikpun niatmu untuk jauh dari diriku” namun dia kembali menangis.
Kali ini aku sudah tak bisa menahan diriku, setelah dengan susah payah aku menahan buliran air mata ini supaya tak keluar akhirnya keluar juga. Entah mendapat keberanian darimana aku langsung memeluknya denngan begitu erat. Ini sudah tak bisa ku kendalikan. Aku ikut menangis bersamanya, kami menangis bersama. “Kau tak perlu mengkhawatirkan itu. Tanpa kau minta aku sudah berjanji pada diri sendiri sejak dulu mulai menjadi kekasihmu, aku tak akan pernah bisa jauh dari hatimu. Aku menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini. Hati,jiwa,dan raga kita sudah digariskan untuk selalu menyatu.Percayalah!” balasku dengan penuh rasa kasih sayang.
Lalu, lain kala. Diwaktu aku yang mendapat sebuah kesulitan, dia juga menjadi pria yang begitu dekat denganku. Dia selalu menghiburku. Dengan tatapannya yang seolah membius jiwaku, pelukannya yang hangat, tutur ucapnya yang sungguh bisa menenangkan kalbuku. Juga dengan kecupannya yang membuat darahku serasa berhenti mengalir. Aku begitu mencintainya.
13 November.. pesan demi pesan, telepon demi telepon, kartu ucapan juga hadiah ulangtahun telah ku terima dari puluhan kerabat dekatku. Tapi dimana Ardi? Dia tak menelpon, tak mengirim sms, atau apapun itu untuk mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Dimana dia? Mengapa dia bisa menghilang begitu saja?
Sampai hari menjelang malam, aku masih mengharapkan dia muncul dibalik daun pintu, mengucapkan ‘selamat ulang tahun.’ Dengan setangkai mawar putih yang indah nan harum. Tapi dia tak kunjung datang. Kemana dia?
Aku resah,marah,kecewa,sedih. Mengapa dia bisa menghilang begitu saja dihari spesial yang sangat ingin aku jalani dan aku lalui bersamanya.
Ya Tuhan..bahkan dia tak mengaktifkan ponselnya. Apa dia sengaja menghindar? Tapi mengapa?
Seminggu sudah dari 13 November.Ini sudah sangat membuatku bersedih. Dia jahat. Mengapa tak memberi kabar? Apa dia sudah tak menyimpan rasa indah untukku lagi? Apa dia sudah bosan berbagi hari-hari bersamaku?
Ditengah-tengah anganku, pintu diketuk dari luar. Walaupun aku mengharapkan itu Ardi tapi aku yakin dan meyakini bahwa itu bukan orang yang aku harapkan.

Ardi?”Selamat ulang tahun. Maaf aku terlambat” . tanpa basa-basi lagi aku segera memeluknya dengan erat. Lalu segera menangis didada bidangnya. Dia membalas pelukanku tak kalah erat. Untuk apa menangis? Untuk kebencianku karena dia baru muncul? Untuk jawaban keresahanku karena dia tak memberi kabar. Apapun itu yang pasti aku sangat senang karena dia datang, mengucapkan selamat ulang tahun dan membawa setangkai mawar putih seperti anganku.
“Maafkan aku. Tapi aku mohon. Kau jangan sampai menangis hanya karena lelaki tak   berguna sepertiku. Aku minta kau berjanji. Jika seandainya nanti lagi aku terlambat atau bahkan juga tak datang jangan sampai kau menangis bahkan membenciku. Kau harus ingat, ada tiadanya diriku disampingmu, cintaku selalu hidup dihatimu. Begitupun sebaliknya. Kau harus ingat itu baik-baik. Aku menyayangimu. Dan aku telah menjadikanmu cinta terakhir dihidupku.” Apa yang dia katakan sungguh membuatku bingung. Mengapa dia bisa berbicara seperti itu? Tapi mulutku serasa kaku. Tak bisa mengatakan apapun. Hanya bisa mendengarnya bicara lebih jauh yang sama sekali tak dapat ku cerna sedikitpun. Aku hanya menunduk dengan deraian air mata yang diiringi dengan suara sesegukan saat menangis.
“Aku bilang jangan menangis. Jika kau tetap menangis, aku benar-benar akan pergi.”
Dia memelukku. Namun pelukannya kali ini lain. Sentuhannya lain. Ada sebuah perbedaan dengan pelukannnya yang selalu hangat.
Entah mengapa malam ini sang hati tak merelakan dirinya pergi begitu cepat. Hati ini seakan memaksanya untuk tetap tinggal disisiku. Melepasnya kali ini serasa begitu berat. Dia menemaniku sampai aku terlelap dipangkuannya.
Paginya aku terbangun. Dia telah tiada. Dia sudah pulang. Mengapa dia tak berpamitan padaku? Kapan pulang?
Apa? Nomornya masih tak aktif?
Sehari,dua hari,tiga hari, seminggu. Dia tak kunjung mengirim kabar. Rasaku kembali resah dibuatnya. Mengapa dia begitu piawai memainkan perasaanku?
Untuk mengobati keresahanku aku segera memutuskan untuk pergi menuju rumahnya. Aku harap dia ada dirumah.
“Maaf. Tapi Ardi sudah meninggal”
Meninggal? Ardi .. kekasihku meninggal? Lelucon macam apa ini? Jelas 1 minggu lalu dia masih memelukku. Aku tak  bisa terima ini. Kekasihku, pria yang begitu menyayangi dan aku sayangi ini telah tiada dan pergi untuk selamanya?
Jadi apa ini makna dari ucapannya waktu itu? Dia mengatakan supaya aku tak menangis saat dia terlambat atau bahkan juga tak kunjung datang. Karena dia benar-benar ingin meninggalkanku.
“Dia meninggal dalam kecelakaan maut 2 minggu lalu”
2 minggu lalu? Tak mungkin.  Lalu siapa yang minggu lalu, ditengah derasnya hujan, dan ditengah besarnya hembusan kekuatan sang angin datang ke rumahku memelukku dan memberikan mawar putih itu? Apa itu arwahnya?
Hatiku masih tak dapat mempercayai kepergian kekasihku walau sekarang ragaku tengah memeluk dan mencium nisannya. Aku merasa aku begitu rapuh hingga tak mampu lagi mengatakan apapun. Rasaku pecah bagaikan gelas kaca yang terjatuh dari ketinggian menara.
Setangkai mawar yang dulu kau berikan malam itu aku ingin mengembalikannya padamu. Aku heran, kekuatan apa yang menjadikan mawar ini tak layu selama setahun ini? Dan juga harumnya masih tetap tercium disetiap sudut ruangan rumahku. Apa mungkin jika itu adalah kekuatan cinta? Seperti kisah  putri-pangeran di dongeng pengantar tidur saja.
Ardi..kekasihku.. walaupun dirimu sudah tak berada di dunia ini, walaupun aku sudah tak bisa memelukmu lagi, walaupun aku sudah tak bisa bersandar dipundakmu lagi kala aku menangis, tapi aku masih akan tetap mencintaimu.
Aku begitu bahagia mengetahui suatu kenyataan bahwa aku adalah cinta terakhir dihidupmu.dan aku pastikan dan aku berjanji bahwa hati ini tak akan pernah membuang namamu walaupun ruang memisahkan kita. Cinta kita akan tetap tumbuh sampai kapanpun juga. Aku percaya dengan kekuatan cinta kita yang sungguh luar biasa.

Aku akan  tetap mencintaimu sampai akhir hembus nafasku. I Love You..


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen Pertamaku "Memories""

Posting Komentar